Kamis, 26 Januari 2012

Bekal Meraih Kemenangan


by _mz aLiiff_

1.       Dawafi’ al-Imany  (Motivasi Imaniyah)
Kekuatan iman menjadi daya dorong  yang besar dalam melakukan aktivitas ubudiyah. Jika kita percaya bahwa yang kita kerjakan bernilai ibadah, maka bekal iman yang harus ditambah. Sedangkan keikhlasan untuk meraih ridha Allah menjadi ghayyah utamanya.
Siapa yang ditolong Allah?
Mereka adalah apabila diteguhkan kedudukan dimuka bumi:
1. Mendirikan Shalat
2. Mengeluarkan shadaqah
3. Menyuruh berbuat ma’ruf
4. Mencegah yang munkar
5. Bertawakal kepada Allah tentang semua urusan
(QS.Al-Hajj: 40-41)

2.       At Tafaul (Optimisme)
Saat Rasul di Thaif, beliau dicemooh dan dilempari batu oleh penduduknya. Saat itupun Malaikat Jibril dan Malaikat penjaga gunung marah, sehingga perlu membalas perbuatan mereka. Tapi apa kata Rasul?
“Bila saat ini mereka tidak menerima seruanku, aku berharap dari keturunan  mereka menyambut dakwahku.”
Nyatanya 10tahun kemudian, orang-orang Thaif berbondong-bondong masuk Islam.
Ada pula 300 pasukan Muslim yang bisa mengalahkan 1100 kafir Quraisy bersenjata lengkap saat ghozwatul Badr. Mereka diberi kemenangan karena mereka yakin Allah akan memenangkan mereka.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS.Yusuf:87)

3.       Tsiqah bil Qudratidz Dzatiyah (Percaya pada kemampuan diri)
Ketika Muadz bin Jabal dikirim ke Yaman, beliau mengharapkan Rasulullah memberi banyak bekal materi da’wah. Ternyata Rasul hanya memberi 3 bekal.
Pertama, tingkatkan komitmen moral.
Kedua, Tazkiyatun Nafs (Pembersihan diri)
Ketiga, Interaksi Sosial.
Kata Rasul:
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya, dan berbuat baiklah pada manusia.” (HR.BukhoriMuslim).
Lalu apakah 3bekal itu kurang buat Mu’adz?
Tidak. Ternyata apa yang jadi keraguan Mu’adz tentang kemampuan ilmunya tidak terbukti. Buktinya dakwah yang  dibawa beliau berkembang di Yaman.

4.       Al Ibrah wa Ta’birul Akhorin (Mengambil Pelajaran dan Pengalaman Orang Lain)
“Experience is the best teacher”, dari pengalaman orang-orang terdahulu kita bisa mengambil ibrah untuk menghindari peristiwa serupa di masa sekarang. Kita berbeda  dengan orang-orang munafik yang tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang pernah diujikan pada mereka.
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali tiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak(pula) mengambil pelajaran?” (QS. At Taubah:126)

5.       Ad Du’a (Do’a)
Kedudukan do’a bagi seorang mukmin adalah senjata dan ketundukan. Ia sekaligus pengingat agar manusia tidak ujub, karena masih ada kekuatan besar di luar kemampuannya dalam menentukan segala sesuatu. Lewat do’a, ia menjadi penawar hati yang kelu dan penyejuk bagi jiwa yang panas. Bukankah Nabi Musa as. Juga berdo’a pada Rabbnya sebelum berhadapan dengan Fir’aun?
“Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS.Thaahaa:25-28)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar