Kamis, 30 Oktober 2014

sahabat part 7



Dear Sahabat ..

“masa perjuangan, hidup tanpa kemunafikan dengan kalian, petak E”
Setiap kita punya cerita, setiap petak punya cerita. Indah atau enggak, tergantung bagaimana kita menyikapi kebersamaan yang  awalnya terasa lama dan menjemukan yang kemudia terasa singkat dan mengesankan.
Dari bangun tidur sampe tidur lagi.. ketemu kalian terus..
Mulai jaga serambi, lari-lari, sampe kadang bikin sakit hati.
Itulah mengapa orang bilang “lidah tidak bertulang” jadi lidah mampu berkata apa saja yang kadang menyanjung dan membuat orang lain bahagia. Namun terkadang pula dengan lidah yang tak bertulang ini, kita secara sengaja atau tidak mampu menyakiti hati. Hati orang lain.
Aahhh tapi itu semua tetap indah dikenang saat kita tak bersama seperti ini.
Semua berawal dari yang terdekat dengan kita. Keluarga, rumah. Sekuat apapun ujian di luar sana, kalau kita mampu menjaga dan menyemangati diri dengan spirit-spirit yang dikatakan oleh orang tua kita ataupun keluarga kita yang lain, tentu semua beban dan masalah yang kita hadapi tidak akan sesulit semula. Karena kita merasa tetap diterima dan tetap disayang oleh keluarga kita sebagai apa adanya kita.
Begitupun di petak E..
Semua berawal dari petak (kamar asrama)..
Saat kita pusing, galau, capek, dan mungkin terjadi perselisihan dengan senior ataupun teman seangkatan kita sendiri, petak lah tempat segalanya kembali. Kembali ke petak dengan membawa emosi, emosi kebahagiaan, emosi kesedihan, kekecewaan, emosi karena kasmaran, sampai emosi karena ada masalah keluarga ataupun emosi-emosi yang lain termasuk emosi dengan dosen pembimbing.
Kalo bicara mengenai dosen pembimbing, jadi ingt dengan saudara2 petak E yang hingga mau lulus pun masih ada yang merepotkan teman2 semuanya. Hehehe indah ya kalo dikenang..
Di petak, siapapun kita, masalah apapun yang dihadapi, diantara kita selalu ada yang mengerti, mungkin tidak semua, karena Aku sadar diantara kita tidak semua faham dengan masalah ataupun kesulitan dan suasana hati yang kita hadapi.Namun itu semua sudah sangat cukup untuk mengembalikan semangat untuk mengahdapi hari esoknya.
Kalian yang tahu aku , segala kekurangan yang sangat mungkin orang lain tidak bisa terima, tapi kalian bisa menerimaku, hehee semoga nggak karena terpaksa yaa..

Banyak sekali cara kita untuk membuat petak kita tetap terjaga kebersamaannya. Mulai dari arisan, nabung, hingga tukar-tukaran kado yang ternyata membuat cukup pusing karena selera kita beda-beda. Hehe itu karena kita tidak ingin saling mengecewakan satu sama lain.
Dibalik niat kita itu, tetep aja da yang membuat kita mengerutkan dahi dan membuat kita kaget, siapa lagi kalo bukan sukon Ika. Dia member kita kado berupa celengan. Jadi ketawa  I nulisnya.. saat yang lain bingung mau ngasih apa, mikirin tentang barag yang mungkin dipake saat kerja nanti, misalnya tas, baju, dll eehh si Ika malah ngasi celengan, hehhee
Adaaa ajaa..

Sungguh semua adalah proses pendewasaan diri. Bahwa kita tidak ada yang sempurna, dan aku mulai mengerti bahwa setiap keluarga mempunyai aturan sendiri dalam mendidik anak-anaknya, dan kita yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda ini disatukan dalam satu kamar, yang mau nggak mau harus hidup setiap hari dengan orang-orang yang telah ditentukan, tentu tidak dengan persetujuan kami sebelumnya. Ya, begitulah,, memang dibutuhkan rasa toleransi yang luar biasa, pengertian yang luar biasa, dan semangat yang luarbiasa pula hingga akhirnya kita mampu hidup berdampingan seperti halnya saudara. Saudara dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Dalam kebersamaan seperti ini , memang kita tidak bisa menuntut kesempurnaan orang di sekeliling kita untuk mengerti dan mengabulkan setiap apa yang kita mau. Mengerti kita setiap saat, dan membenarkan segala yang kita lakukan. Tidak. Kalau kita mencari teman yang seperti itu, kita tidak akan menemukan teman satu orang pun, karena nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Jadi inget tuliasan Jalaludin el Rumi “if you’re looking for friends who faultness, you’ll friendless. Sepakat. Ya , sepakat dengan pepatah ini. Karena kita sendiripun ternyata punya banyak kekurangan yang melekat dalam diri. Semangat untuk terus berjuang hingga akhir pendidikan adalah kunci unutk tetap dan terus bertahan dalam lingkungan kampus saat itu. Yang menjadi tugas adalah bagaimana cara kita mengakhiri masa pendidikan ini dengan sesuatu yang membanggakan bagi orang tua, dan indah serta harmonis dengan saudara-saudara kita di petak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar