Dear Sahabat ..
“masa perjuangan,
hidup tanpa kemunafikan dengan kalian, petak E”
Setiap kita punya
cerita, setiap petak punya cerita. Indah atau enggak, tergantung bagaimana kita
menyikapi kebersamaan yang awalnya
terasa lama dan menjemukan yang kemudia terasa singkat dan mengesankan.
Dari bangun tidur
sampe tidur lagi.. ketemu kalian terus..
Mulai jaga
serambi, lari-lari, sampe kadang bikin sakit hati.
Itulah mengapa
orang bilang “lidah tidak bertulang” jadi lidah mampu berkata apa saja yang
kadang menyanjung dan membuat orang lain bahagia. Namun terkadang pula dengan
lidah yang tak bertulang ini, kita secara sengaja atau tidak mampu menyakiti
hati. Hati orang lain.
Aahhh tapi itu
semua tetap indah dikenang saat kita tak bersama seperti ini.
Semua berawal dari
yang terdekat dengan kita. Keluarga, rumah. Sekuat apapun ujian di luar sana,
kalau kita mampu menjaga dan menyemangati diri dengan spirit-spirit yang
dikatakan oleh orang tua kita ataupun keluarga kita yang lain, tentu semua
beban dan masalah yang kita hadapi tidak akan sesulit semula. Karena kita
merasa tetap diterima dan tetap disayang oleh keluarga kita sebagai apa adanya
kita.
Begitupun di petak
E..
Semua berawal dari
petak (kamar asrama)..
Saat kita pusing,
galau, capek, dan mungkin terjadi perselisihan dengan senior ataupun teman
seangkatan kita sendiri, petak lah tempat segalanya kembali. Kembali ke petak
dengan membawa emosi, emosi kebahagiaan, emosi kesedihan, kekecewaan, emosi
karena kasmaran, sampai emosi karena ada masalah keluarga ataupun emosi-emosi
yang lain termasuk emosi dengan dosen pembimbing.
Kalo bicara
mengenai dosen pembimbing, jadi ingt dengan saudara2 petak E yang hingga mau
lulus pun masih ada yang merepotkan teman2 semuanya. Hehehe indah ya kalo
dikenang..
Di petak, siapapun
kita, masalah apapun yang dihadapi, diantara kita selalu ada yang mengerti,
mungkin tidak semua, karena Aku sadar diantara kita tidak semua faham dengan
masalah ataupun kesulitan dan suasana hati yang kita hadapi.Namun itu semua
sudah sangat cukup untuk mengembalikan semangat untuk mengahdapi hari esoknya.
Kalian yang tahu
aku , segala kekurangan yang sangat mungkin orang lain tidak bisa terima, tapi
kalian bisa menerimaku, hehee semoga nggak karena terpaksa yaa..
Banyak sekali cara
kita untuk membuat petak kita tetap terjaga kebersamaannya. Mulai dari arisan,
nabung, hingga tukar-tukaran kado yang ternyata membuat cukup pusing karena
selera kita beda-beda. Hehe itu karena kita tidak ingin saling mengecewakan
satu sama lain.
Dibalik niat kita
itu, tetep aja da yang membuat kita mengerutkan dahi dan membuat kita kaget,
siapa lagi kalo bukan sukon Ika. Dia member kita kado berupa celengan. Jadi
ketawa I nulisnya.. saat yang lain
bingung mau ngasih apa, mikirin tentang barag yang mungkin dipake saat kerja
nanti, misalnya tas, baju, dll eehh si Ika malah ngasi celengan, hehhee
Adaaa ajaa..
Sungguh semua adalah
proses pendewasaan diri. Bahwa kita tidak ada yang sempurna, dan aku mulai
mengerti bahwa setiap keluarga mempunyai aturan sendiri dalam mendidik
anak-anaknya, dan kita yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda ini
disatukan dalam satu kamar, yang mau nggak mau harus hidup setiap hari dengan
orang-orang yang telah ditentukan, tentu tidak dengan persetujuan kami
sebelumnya. Ya, begitulah,, memang dibutuhkan rasa toleransi yang luar biasa,
pengertian yang luar biasa, dan semangat yang luarbiasa pula hingga akhirnya
kita mampu hidup berdampingan seperti halnya saudara. Saudara dengan segala
kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.
Dalam kebersamaan
seperti ini , memang kita tidak bisa menuntut kesempurnaan orang di sekeliling
kita untuk mengerti dan mengabulkan setiap apa yang kita mau. Mengerti kita
setiap saat, dan membenarkan segala yang kita lakukan. Tidak. Kalau kita
mencari teman yang seperti itu, kita tidak akan menemukan teman satu orang pun,
karena nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Jadi inget tuliasan
Jalaludin el Rumi “if you’re looking for friends who faultness, you’ll
friendless. Sepakat. Ya , sepakat dengan pepatah ini. Karena kita sendiripun
ternyata punya banyak kekurangan yang melekat dalam diri. Semangat untuk terus
berjuang hingga akhir pendidikan adalah kunci unutk tetap dan terus bertahan
dalam lingkungan kampus saat itu. Yang menjadi tugas adalah bagaimana cara kita
mengakhiri masa pendidikan ini dengan sesuatu yang membanggakan bagi orang tua,
dan indah serta harmonis dengan saudara-saudara kita di petak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar