Minggu, 22 Juni 2014

"man.."

man shobaro dzofiro : barang siapa bersabar, beruntunglah dia
Man yazra yahshud : barang siapa menanam, maka dia akan menuai
Man jadda wajada : barang siapa bersungguh-sungguh, maka dia kan berhasil
Bahwa menjadi yang terbaik adalah impian setiap manusia.
Namun, hakikat yang terbaik harus kita pahami terlebih dahulu. Karena menjadi yang terbaik tidak semata-mata membuat kita berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan dari semua manusia di bumi. Akan tetapi, kita harus tetap berusaha memberikan yang terbaik dari diri kita, semampu kita, semaksimal mungkin apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan diri kita dan orang lain tanpa mengutamakan pengakuan dari seluruh manusia. Maka, dengan sendirinya orang lain akan menilai dan melihat siapa kita dan seperti apa kualitas diri kita.
Ini yang aku pelajari hari ini. Dulu, aku selalu mengira bahwa penilaian dari orang lain itu sangat penting bagiku. Dan aku harus menjadi yang terbaik dan diakui oleh orang lain atas kemampuan dan semua yang aku lakukan untuk orang lain. Ternyata itu SALAH BESAR. Semakin kita mementingkan pengakuan dan pujian dari orang lain, maka semua yang kita lakukan semakin melelahkan diri. Dan akhirnya istiqamah sangat sulit diraih. Karena orientasi kita adalah penilaian dari manusia semata. Dan saat ada orang yang mencela, kita akan langsung bimbang dan sibuk mencari kesalahan dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Ini yang membuat “ikhlas” sulit didapatkan saat beramal.
Bahwa bijak tidak dapat kita raih dalam waktu satu dua hari. Menjadi orang yang “bijak” tentu membutuhkan proses yang tidak singkat. Orang bijak melalui berbagai kesalahan, teguran, dan cobaan sehingga membuat dirinya mampu peka dan mengambil hikmah ats kesalahan yang diperbuatnya dan diperbuat orang lain.
Bersyukur dan qonaah itu salah satu kunci untuk membuat kita bijak dalam menjalani hidup ini.
Akhirnya aku mengerti bahwa dengan memberikan yang terbaik yang kita miliki pada orang lain dan melakukan yang terbaik untuk mencapai cita-cita diri, dan tanpa mengutamakan pengakuan dari orang lain, maka kita akan melakukan semua itu dengan senang hati dan semangat tanpa risau dengan pengakuan orang lain selama apa yang kita lakukan itu tidak menyalahi syari’at.
Maka sangat benar apa yang dinasihatkan oleh para Wali Allah dulu, bahwa salah satu tombo ati adalah “berkumpulah dengan orang sholeh”. Dengan berkumpul dengan orang sholeh, maka kita akan senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan dan perbaikan diri menuju hal yang lebih baik dan mulia.

Barakallahu fikum..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar